Realitas Gereja dalam Politik

Diantara dua persimpangan.

Fakta dan hal-hal yang tertutupi masih berkeliling dalam pemikiran saya. Produk yang sekarang dikonsumsi oleh masyarakat lebih mengacu pada produk politik, produk kekuasaan. Melihat pada satu fenomena dalam negeri ini, yakni peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, dimana salah satunya membahas mengenai pendirian tempat ibadah. Hal yang menarik saat ini adalah, saya berada di dua persimpangan. Antara realita dan kebenaran.

Satu sisi, Perber tersebut tentunya menyalahi hierarki hukum yang berlaku. Ya, saya pun belajar Sistem Hukum Indonesia, dan masih ingat dalam benak saya bahwa hukum yang dibawah (inferior) harus merujuk pada hukum yang diatasnya (superior). Dalam artian Peraturan Bersama (Perber) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No 8 dan 9 Tahun 2006 harus sinkron dengan Pasal 29 UUD 1945. Dalam filosofi kebenaran dianalogikan bahwa, pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik. Produk hukum ini tidak baik maka buahnya pun tidak baik. Faktanya dapat kita lihat! Sejumlah tempat-tempat ibadah Kristen kembali ditutup, atau diminta untuk ditutup.

Misalnya, di Bekasi, di dalam kompleks Seroja, dua gedung gereja yaitu milik Gereja Kristen Pasundan dan Gereja Katolik, diberi batas waktu dua minggu untuk segera menutupnya. Di Pasuruan, Ketua Badan Musyawarah Antargereja (Bamag) diminta untuk menutup gedung-gedung gereja yang tidak mempunyai IMB. Di Bogor, tiga gedung gereja yaitu milik Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Betel Indonesia (GBI), dan Gereja Baptis ditutup. Di Tulung Agung, sejumlah massa mendatangi Bakesbang membawa 500 tanda tangan mendesak menutup GPID setempat. Selanjutnya, menurut berita Metro TV, tanggal 23 April, dua ruko yang selama ini dipakai sebagai tempat ibadah sementara, di Gunung Putri Bogor, didatangi warga minta ditutup. Ironis !!!

Konsiderans dari Perber tersebut teramat tegas dirumuskan hak beragama sebagai hak asasi manusia. Bahwa setiap orang bebas memilih agama dan beribadat menurut agamanya, bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu, bahwa pemerintah berkewajiban melindungi setiap usaha penduduk melaksanakan ajaran agama dan ibadat pemeluk-pemeluknya, sepanjang tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku, tidak menyalahgunakan atau menodai agama, serta tidak mengganggu keamanan dan ketertiban umum.

Tidak boleh ada pertentangan antara konsiderans dan diktumnya, lebih-lebih lagi dengan aplikasinya di lapangan. Namun kenyataannya, semua sudah menyalahi aturan. Oleh karena itu, Perber ini sebenarnya harus diuji materi. Jika dalam praktiknya sama sekali tidak menghasilkan kerukunan yang selama ini digadang-gadang bisa tumbuh, maka sudah selayaknya Perber ini dicabut. Itulah suara kebenaran.

Dipersimpangan yang lain, nyatanya Perber ini disepakati oleh pemimpin-pemimpin kita. Semua telah menyetujui dan melaksanakan hasil dari entah produk hukum atau produk politik tersebut. Satu hal yang menarik adalah, statement bahwa Perber sudah dibuat dan tinggal dimana kita bersiasat. Waaw, itulah ilmu yang sedang saya jalani di Perguruan Tinggi. Memang menarik bahwa itu tinggal bagaimana kita mempolitisirnya.

Namun sekali lagi… dimana kebenaran itu ? dimana lagi kutemukan suara kenabian Apakah arti teologi yang benar jika tidak dapat hidup benar, karena setan pun mengetahui teologi yang benar (Luk 4:34b) tetapi hidupnya tidak benar. Ironis melihat para pemuka agama yang tentunya punya teologi yang lebih hebat daripada saya, tetapi dalam pelaksanaan masih membusukkan POLITIK.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: