Noktah

masih terlalu pagi menuju stasiun

udara masih basah dengan embun dan bau tembakau..

seorang tunawisma meminjam jalur kananku

maaf . . .

aku bahkan tak punya sekeping uang

untuk kaleng nya yang kering

setumpuk rumus dunia politik

dan tanggung jawab bertahan hidup

telah memaksaku melupakan diskon tiket kereta…

tengah kubayangkan kali ancarmu

yang tak akan pernah mati,

karena selalu saja ada kehidupan dapur

yang meminang bumbu dan air…

di depan warung “sorjem”

pukul setengah delapan,

telepon ringkih ku memanggil . . .

“tidakkah kamu ingin pulang, bang?”

aku tak punya jawaban yang menyenangkan

untuk wanita hebat

yang telah mengikhlaskan sembilan bulan rahimnya….

lalu,

tepat di hadapan jembatan tua muka stasiun

yang berdiri kaku ratusan tahun

aku memilih meremas uang tiket kereta

kembali ke kantor pos

berkhabar pada kota ku

noktah kecil dalam peta

yang membesarkan aku dan cita-citaku….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: