Pemikiran Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D

Sebuah catatan dari Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D.

A. Gereja yang Berteologi

Sumber: “Theologi”, Renungan Minggu, Sinar Harapan, 21 Februari 1978, dimuat dalam Eka Darmaputera, Firman Hidup, no 29, Jakarta: BPK Gunung Mulia, cetakan kedua, 1982, halaman 49-50.

Kalau Gereja sukses dalam memikat banyak anggota, tetapi hidup tanpa teologi, tidakkah itu namanya organisasi massa atau klub rohani, tapi pasti bukan gereja?

Kalau Gereja sukses dalam mengusahakan keuangan, tetapi hidup tanpa teologi, tidakkah lebih tepat namanya adalah CV atau firma, tapi pasti bukan gereja?

Kalau Gereja sukses dalam pekerjaan sosial, tetapi hidup tanpa teologi, tidakkah lebih tepat namanya adalah sebuah yayasan sosial, tapi pasti bukan gereja?

Gereja semakin jauh dari teologi. Akibatnya Gereja tidak lagi pantas disebut Gereja. Tetapi sekaligus dengan itu, teologi juga semakin jauh dari Gereja. Akibatnya, teologi tidak pantas pula disebut teologi.

Gereja tanpa teologi? Seperti Pak Tani tak punya cangkul. Teologi tanpa Gereja? Seperti pada pameran, ketika sebuah cangkul dikagumi, tapi bukan untuk dipakai.

Jelaslah, betapa yang kita cita-citakan, adalah gereja yang berteologi. Tentara yang diperlengkapi dengan ilmu ketentaraan. Pak Tani yang mempunyai cangkul.

B. Oikumene (struktural atau fungsional)

Secara teologis, gerakan oikumene tidaklah harus berujung pada keesaan struktural.  Namun, saya melihat dalam sejarah dan praktik perjalanan oikumenis di Indonesia, pandangan itu seringkali dijadikan semacam justifikasi bahwa gerakan oikumene seakan-akan sekedar gerakan kerja sama, membuat kebaktian bersama-sama, dan lainnya, tanpa perlu dan mau memberi bentuk  atau struktur yang jelas.

Keesaan yang paling utama adalah keesaan fungsional. Tetapi keesaan fungsional tersebut harus sejauh mungkin kita strukturkan, karena memang keesaan membutuhkan suatu struktur untuk dapat menjalankan fungsinya secara maksimal. Jadi jangan suruh saya memilih apakah oikumene itu peleburan, atau struktural, atau fungsional. It is both of them, dan dia harus terbuka untuk segala kemungkinan.

Jika gerakan sudah menjadi jawatan, maka hukum besinya adalah dia akan mempertahankan diri, mengokohkan diri, dan dengan sendirinya akan menjadi semakin menutup diri, tidak dinamis lagi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: