Revitalisasi Peran dan Posisi Organisasi Persekutuan Mahasiswa

(Pembaruan dalam Mewujudkan Kualitas SDM Organisasi – Persekutuan)

Beberapa   hasil   identifikasi   yang   berkaitan   dengan   kondisi   internal   yang   harus

diperhatikan untuk menjadi dasar penyusunan program guna menjawab kebutuhan anggota,

yakni:

1. Mandeknya aktivitas organisasi yang disebabkan karena lemahnya konsolidasi internal

organisasi. Persoalan mendasar yang biasa dihadapi adalah lemahnya komitmen untuk

menjalankan tanggung jawabnya,  yang  kemudian berakibat pada kinerja maupun

program yang diembannya sehingga tidak dilaksanakan secara bertanggungjawab. Hal

lain yang menjadi persolaan adalah karena kurangya pengalaman organisasi, kurangnya

pemahaman   dan   pengetahuan   (pemahan   organisatoris)   oleh   masing-masing

individu/anggota bahkan pengurus.

Di   sisi   lain,   tingkat   kesibukkan   masing-masing   individu   juga   tidak   dapat

dikesampingkan, hal ini berdampak pada arah gerak dan aktivitas PMKP yang melemah.

2. Belum tegasnya implementasi AD/ART–GBHKP-TKO yang dilakukan oleh pemimpin

dan atau anggota terhadap pengurus yang kurang atau tidak aktif bahkan mengalami

kekosongan karena suatu hal, misalnya pengunduran diri atau keaktifan di wadah lain.

3. Masalah manajemen organisasi merupakan persoalan mendasar, antara lain persoalan

database, inventarisasi dan administrasi. Disisi lain, belum efektifknya pemberlakuan

pola pemeriksaan keuangan oleh badan harian (Ketua atau Bendahara).  Hal ini terjadi

karena pada tingkatan badan harian hingga staf sebagai pelaksana, belum memahami pola

manajemen keuangan dan program organisasi yang baik.

4. Menurunnya tingkat partisipasi anggota aktif (mahasiswa), serta dari pihak dosen Kristen

hingga senior (alumni). Selain itu, penurunan kualitas komunikasi antara pengurus

dengan anggota, anggota dengan anggota, dan pengurus serta anggota dengan senior atau

jaringan, sehingga berdampak pada daya dukung terhadap program kerja PMKP (baik

yang sifatnya terstrukur maupun kultural)

5. Situasi paling buruk secara umum yang bisa ditinjau adalah sikap apatis anggota,

ketidakseriusan berproses dalam organisasi dan kurangnya rasa memiliki terhadap

organisasi. Sistem penerimaan anggota yang terlalu menekankan pada fleksibilitas,

berakibat pada banyaknya anggota yang tidak aktif setelah masa perkenalan dan akhirnya

jumlah anggota aktif semakin berkurang. Masalah fleksibilitas penerimaan anggota juga

berdampak pada melemahnya partisipasi anggota dan bahkan komitmen anggota dalam

meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya dalamberorganisasi. Disamping itu, tidak

adanya pusat infomasi dan pengembangan sehingga kurangnya untuk menggodok

kapasitas dan kapabilitas anggota.

6. Belum adanya pemetaan sosiologis termasuk data base keanggotaan biasa dan luar biasa

sehingga terhambatnya proses konsolidasi. Dilain pihak, belum adanya rumusan model

dan strategi kewirausahaan yang baik demi mendukung pendanaan program kerja

sehingga dapat meminimalisasi cara-cara konvensional yang tidak efektif. Sehingga

dalam penataan dan pendayaangunaan sumber daya organisasi belum berjalan secara

maksimal.

7. Format pembinaan berjenjang bagi anggota (umumnya dalam kepanitiaan atau LKMK)

mengalami kendala dalam proses implementasi. Oleh karena itu, tidak ada sosialisasi

yang   baik,   juga   belum   adanya   format   pendampingan   yang   baku   baik   untuk

keberlangsungan organisasi bagi anggota aktif (mahasiswa).

8. Semakin renggangnya hubungan mahasiswa dengan gereja serta menurunnya kontribusi

mahasiswa bagi gereja-gereja. Di satu sisi, karena Purwokerto adalah tempat studi transit

bagi mahasiswa dari luar, di sisi lain, ada pula persoalan kurang terbukanya komisi-komisi pemuda dalam ruang lingkup gereja-gereja untuk membangun komunikasi dengan

mahasiswa pendatang. Dan belum adanya sebuah forum komunikasi antar komisi

pemuda-pemuda gereja di Banyumas, khususnya Purwokerto.

9. Pengetahuan dan kebijaksanaan pun saat ini tidak menjadi dasar pengelolaan sumber

daya alam, yang mengakibatkan degradasi terhadap lingkungan.

Tantangan diatas yang coba digumuli oleh perguruan tinggi saat ini yang mana harapan

akan lulusannya memiliki kemampuan  soft   skill  yang berbasis pada   hard  skill

(profesionalitas). Namun, lemahnya jaringan kerjasama dengan Organisasi Mahasiswa

Intra dan Ekstra Kampus bersama dan lembaga strategis lainnya menunda para pemuda

untuk bersama menggagas agenda kolektif dalam menyikapi problematika di aras lokal.

10. . Persekongkolan pemerintah dan pemodal yang tidak beretika mengubah identitas

Kabupaten Banyumas dari nuansa kesatriaan dan pendidikan ke nuansa industri,

meodernisasi dan keseragaman. Di sisi lain kesadaran masyarakat dan aktor dalam

birokrasi (pemerintahan) terhadap kebijakan juga sangat minim. Komunikasi politik yang

dibangun antara Jemaat dan pengambil kebijakan (legislatif/eksekutif) juga masih minim.

STRATEGI DAN KEBIJAKAN

Dari sekian banyak potensi dan peluang yang dimiliki organisasi persekutuan dalam konteks kekinian, tentu

diperlukan   langkah–langkah   strategis   dalam   rangka   menata   dan   meletakkan   kembali

(revitalisasi) peran dan posisi.

Langkah-langkah strategis tersebut juga perlu menekankan pada aspek-aspek strategis, antara

lain:

• Perlu   dilakukan   pendekatan–pendekatan   sistematis   dengan   menggunakan   metode

pendekatan yang jelas (systematic).

• Mampu mempertimbangkan faktor-faktor strategis serta mencakup seluruh perangkat

organisasi secara menyeluruh (holistic).

• Mempertimbangan intregasi dan keterpaduan antar bagian-bagian dalam menjawab

persoalan dan tantangan internal organisasi (integrative).

• Strategi organisasi mampu menghasilkan efek sinergitas bagi perangkat organisasi.

• Dilakukan secara terus-menerus tanpa henti atau secara berkelanjutan (sustainable).

Dengan sifat  penataan organisasi yang demikian, maka langkah yang mendesak dan dibutuhkan

pada tahap awal adalah:

1.  Perlu membuat sebuah konsensus bersama dari semua komponen organisasi yang

melibatkan seluruh komponen organisasi tentang paradigma penataan organisasi yang

akan dilakukan (grand platform).

Grand platform yang akan dibangun, selain menawarkan cara pandang baru (paradigma)

terhadap organisasi, mestilah memiliki dasar pemikiran, target capaian, tahapan, dan

kegiatan-kegiatan penting yang akan dilakukan dalam rangka menata dan meletakkan

kembali (revitalisasi) peran dan posisi organisasi dalam konteks kekinian.

Berdasarkan pemetaan potensi dan peluang strategis yang telah dijelaskan di atas, terlihat adanya

tuntutan untuk menata kembali organisasi, secara terus-menerus, guna membangun kualitas sumber

daya manusia organisasi. Dengan demikian, “pembaruan guna mewujudkan kualitas sumber

daya manusia organisasi” merupakan tawaran paradigma baru.

Paradigma ini setidaknya memiliki dua komponen pokok yang terkait secara kausalistik, yaitu:

1) Pembaruan, yang dilakukan dengan penataan kembali organisasi.

2) Mewujudkan kualitas sumber daya manusia organisasi, yang dilakukan secara terus

menerus dan adaptif sesuai dengan konteks kekinian.

Pembaruan guna mewujudkan kualitas sumber daya manusia organisasi memiliki dua orientasi yaitu:

1) Ke dalam organisasi, berarti penataan dan pengelolaan organisasi harus diperbaharui.

Dengan mengarahkan pada penataan kembali visi empiris, target, strategi, struktur,

proses-proses, perilaku dan bahkan kultur organisasi yang harus diperbaharui guna

mewujudkan kualitas yang menjadi tujuan organisasi.

2) Ke luar organisasi, berarti setiap action manajerial dan substansial organisasi diarahkan

untuk mempebaharui dan membawa perubahan positif terhadap mahasiswa Kristen  serta

perubahan terhadap tiga medan pelayanan.

Dalam upaya mewujudkan paradigma dan orientasi baru organisasi,inti langkah-langkah strategis yang perlu ditempuh adalah :

a) Optimalisasi Fungsi Penataan Organisasi yang Komperhensif.

b) Optimalisasi Fungsi Kewirausahaan.

c) Optimalisasi Fungsi Komunikasi Internal

d) Optimalisasi   Fungsi   Pembinaan   Berjenjang   Keanggotaan   yang   bermanfaat   bagi

pengembangan spiritualitas dan studi anggota.

e) Optimalisasi pelibatan pengurus dan anggota PMK dalam program-progaram kerjasama

dengan organisasi/institusi ekstra dan intra kampus.

f) Optimalisasi  Jejaring Kerja serta Komunikasi Lokal, Regional, Nasional.

g) Optimalisasi Fungsi Kaderisasi berkelanjutan

h) Dalam rangka mewujudkan kualitas, tidak saja menekankan pada proses-proses, tetapi

orientasi hasil (ketercapaian) juga perlu mendapatkan perhatian.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: