Sebuah Cerita dari Desa Bantarpanjang

 

Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan

Tahun 2012 adalah tahun dimana waktu saya habis dalam dunia penelitian.  Tak lama setelah mengerjakan salah satu proyek Corporate Social Responsibility nya sebuah Pabrik Semen, kemudian tugas terjun ke lapangan kembali memanggil.  Ya, saat itu datang dari Program Magister di kampus saya yang kembali memerlukan enumenator dan dengan beberapa pertimbangan akhirnya saya bersedia ikut.

Syaratnya lucu, selain dicari yang berpengalaman sebagai enumenator, tapi juga harus fasih berbahasa Inggris dan Sunda.  Lalu, rasa penasaran itu terjawab ketika kedua bahasa “asing” itu digunakan untuk dua kondisi yang berbeda.  Ternyata, bahasa Inggris digunakan karena ‘bos’ yang punya proyek berasal dari Jepang dan sedang mengambil gelar PhD nya di Thailand.  Kemudian, bahasa Sunda digunakan karena tempat penelitian kami berada di Desa Bantarpanjang, dimana mayoritas warga nya menggunakan bahasa sunda dalam keseharian.  Alhasil, selain menjadi enumenator, saya dan tim juga merangkap tugas sebagai penterjemah sekaligus guide antara si ‘bos’ dan warga di Desa Bantarpanjang, yang penuh cerita suka dan duka.

 

Setelah selama lebih dari satu minggu berada di lokasi, saya spontan untuk menulis apa yang terjadi di Desa Bantarpanjang ini. Walau sedikit, tak banyak namun diambil yang lebih berkesan.  Sebelum masuk ke kesan, alangkah baiknya saya paparkan sekelumit kondisi di Desa Bantarpanjang dengan studi kasus yang saya beri judul “Perubahan Sosial Masyarakat Transmigran di Desa Bantarpanjang, Cimanggu”

Studi kasus ini mencoba melihat perubahan sosial yang dihadapi masyarakat transmigran di Desa Bantarpanjang, Kabupaten Cilacap.  Deskripsi singkat mengenai lokasi tersebut yaitu terdapat beberapa area di Desa Bantarpanjang (mencakup 3 RT) yang merupakan lingkungan baru, dimana merupakan tanah yang dibebaskan pemerintah kepada masyarakat korban bencana longsor atau banjir.  Dengan kata lain, pemerintah memberikan “rumah” baru di wilayah Bantarpanjang yang diperuntukkan kepada masyarakat yang tempat tinggalnya rusak akibat bencana.  Hingga saat ini, lingkungan baru tersebut telah dihuni oleh penduduk yang berasal dari 7 (tujuh) desa yang terkena musibah bencana alam.

Dinamisasi budaya pun terjadi ketika melihat perubahan sosial yang muncul di lingkungan relokasi di Desa Bantarpanjang.  Seperti yang diungkapkan oleh Koentjaraningrat bahwa  budaya merupakan sesuatu yang dinamis.  Dalam hal ini, perubahan sosial muncul dari perubahan luar atau di dalam. Kemudian, apabila terjadi perubahan pada struktur masyarakat maka otomatis fungsi-fungsi atau tugas individu dalam masyarakat ikut berubah. Misalnya, kehidupan sosial suatu keluarga di lingkungan asal akan mengalami perubahan yang signifikan ketika berpindah ke lingkungan baru (di Desa Bantarpanjang) yang dihuni oleh masyarakat “campuran” dari 7 (tujuh) desa yang berbeda.  Artinya, keluarga yang berpindah akan memulai kembali adaptasi di lingkungan yang baru, membangun kembali struktur masyarakat, dan mulai meraba-raba bagaimana fungsi-fungsi dan tugas mereka sebagai pendatang dalam kelompok masyarakat yang baru.

Dampak perubahan sosial yang dialami masyarakat transmigran ini kemudian memunculkan kategori-kategori masyarakat yang berbeda-beda.  Menurut saya, ada kira-kira 3 kategori di masyarakat “translog” di Desa Bantarpanjang ini, yaitu 1). Individu yang aktif membangun kembali struktur masyarakat yang baru; 2). Individu yang memilih apatis terhadap perubahan sosial yang terjadi di lingkungannya yang baru; 3). Individu yang mengikuti arus dan menunggu akan seperti apa struktur masyarakat yang muncul.

Pada kategori pertama, individu akan mencoba membangun kembali pondasi-pondasi sosial untuk Desa Bantarpanjang sebagai lingkungan yang baru.  Caranya?  dengan bersosialisasi secara aktif, menduplikasi struktur masyarakat di daerah asal atau struktur masyarakat yang menurutnya ideal ke lingkungan baru, bahkan mencoba mengaktifkan beberapa sarana-sarana dalam usaha membangun kultur yang ada di Desa Bantarpanjang.

Pada kategori yang kedua, individu akan bersikap “kebalikan” dari individu pertama. Hal tersebut didasari oleh beberapa hal, misalnya di daerah asal pun mereka kesulitan untuk berkembang dan bertahan hidup, ditambah sarana prasarana yang tidak lebih baik jika membandingkan lingkungan yang baru dan yang lama (daerah asal).

Pada kategori yang ketiga, individu cenderung mengikuti apa yang terjadi tanpa memahami secara mendalam mengapa dan bagaimana mereka hidup di Desa Bantarpanjang. Hal tersebut dapat terjadi seiring kemampuan mereka secara fisik atau kemampuan sumber daya yang tidak mumpuni dalam beradaptasi di lingkungan baru.

 

Oleh karena itu,

Ada perubahan dari sistem nilai tradisional melawan sistem nilai pasca tradisional. Misalnya, membantu orang dari kelompok atau dari kekerabatan yang sama atau membantu “saudara sedarah” mencari nafkah atau mencari tempat tinggal sudah menjadi suatu kebiasaan. Hal itu sebagai suatu kewajiban dan bentuk saling menghormati dalam kekerabatan. Kelakuan “membantu” bisa digambarkan sebagai kelakuan yang termasuk nepotisme dalam masyarakat pasca tradisional. Dilema yang disebut di atas, dialami oleh kebanyakan masyarakat yang bergerak dari lingkungan tradisional ke lingkungan pasca tradisional.  Dilema tersebut dialami oleh kebanyakan masyarakat yang bergerak dari lingkungan tradisional ke lingkungan pasca tradisional, seperti yang dialami warga Translog di Desa Bantarpanjang ini.

 

Maka, pentingnya peran pemerintah dan masyarakat dalam hal perubahan yang terjadi ini, bukan suatu yang  teoritis tetapi perlu langkah praktis. Bagaimana hati anda tak terenyuh, ketika melihat dulu mereka punya sawah dan kini di tempat baru mereka tak punya sesuatu yang bisa diolah?  Bagaimana pipi tak tertampar, ketika kita bisa menghamburkan air untuk mandi namun disana mereka harus berbagi air dengan selang yang sangat kecil diameternya. Jika aliran tersumbat, selang itu harus dihisap pakai mulut!  Bagaimana kuping anda tak terganggu, ketika di rumah kita bisa menyalakan suara musik yang keras, sedangkan mereka harus mendengar suara lalu lalang kendaraan bermotor. Ya, lingkungan translog persis berada di pinggir jalan lintas kota, dan selama mereka tinggal disana, banyak angka kematian warga tercatat disebabkan oleh kecelakaan tertabrak kendaraan bermotor ketika menyebrang.  Bagaimana kita bisa teriak memaki perusahaan listrik jika mati lampu atau pemadaman bergilir, namun di daerah translog, mereka arus berbagi listrik setiap rumah. Untuk yang tak mampu bayar listrik? Cukup cahaya matahari dan lilin yang menemani.

 

535078_3602663578864_927841170_n

Ini adalah foto bersama keluarga Samsudin, warga translog yang terkena bencana     longsor.  Yang lebih menyentuh hati saya bukanlah keadaan ekonomi keluarga ini,  yang memang sangat memprihatinkan. Namun, yang ingin saya bagikan adalah passion dari sang kepala keluarga dalam menafkahi istri dan anak-anaknya.

Kenapa?

Karena beliau buta, tapi tidak diam begitu saja. Dia bekerja sebagai tukang pijat, dia paham akan kelemaham fisiknya tetapi dia bertindak. Bagaimana dengan yang “diluar sana”? Masihkah kita terus mengeluh dimakan gengsi dan kondisi yang melekat?

 

“Hidup selain harus dinimati ya diperjuangkan, jangan dikotorin sama keluhan” (Pak Samsudin)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: