Sebuah Cerita dari Tanggung Jawab Perkuliahan dan Bertahan Hidup

 Dont measure a man by how much he has climbed, judge by how hard he climbed to get there.

aq.jpgPenulis yang manja adalah yang hanya sibuk menyusun alasan daripada duduk bekerja mencatatkan kalimat dalam kepalanya.  Oleh karena itu, sedikit cerita subjektif pribadi ingin saya persembahkan pada khayalak dunia maya, entah siapa yang ingin merenunginya sebagai pelajaran atau hiburan semata.

Bahwa saya tidak dapat menaruh sebuah tanda tanya (?) ditempat dimana Tuhan telah menaruh sebuah tanda titik (.) pada hidupku.

Tahun-tahun yang berlalu, 2007 hingga 2013.  Berlalu tanpa dapat terlihat dan dirasakan tapi mampu tercium baunya. Percaya atau tidak saya membuang waktu selama hampir enam tahun untuk kuliah di Unsoed. Sebagian besar saya lewati bukan sebagai seorang anak yang berbakti pada orangtua. Tak mau diam. Sayang.

72258_1593119341514_1041818857_31581763_5869236_nTapi kalo kata sang Profesor Komarudin Hidayat bilang, ” Sama-sama habiskan waktu 4-5 tahun di kampus, hasil yang diraih berbeda-beda. Ijazah sama, tapi kualitas dan nasib ke depan beda.”  Atau kata Bpk. Faisal Basri “Orang yang cuma kuliah saja tanpa ada kegiatan sosial, hanya akan menjadi pekerja.”

(Saat Menjadi Relawan Pasca Bencana Merapi)

Sejak mengawali kuliah saya cari biaya sendiri dengan meneliti, berwirausaha, dan membuat program event. “Banyak relasi & dosen kehidupan diluar kampus. Sambil kuliah sambil cari uang untuk menghidupi diri sendiri setelah berlalu tentu jadi kenangan indah.” (Profesor Komarudin Hidayat)

“yang saya pelajari dari sarjana bukan sekedar ilmu. itu penting. tapi lebih penting adalah mengenal batas kekuatan diri saya sendiri.”

Orangtua mengumpulkan uang dengan cucuran keringat tapi tak ingin aku balas dengan kemalasan. Bagi saya, kemalasan menyelesaikan kuliah adalah bentuk kedurhakaan kepada orangtua.  Tak ada pembenaran, jangan ada alasan.

Aku selalu memegang teguh prinsip bahwa, “Jangan menganggap pendidikan itu mahal, jika menurut kamu mahal silahkan bandingkan dengan harga kebodohan.”

The End.


2 responses to “Sebuah Cerita dari Tanggung Jawab Perkuliahan dan Bertahan Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: