Maaf, kita sibuk!

ImageSetiap manusia cenderung menyukai orang yang memberikan ganjaran atau pengukuhan positif padanya, begitu pun sebaliknya (Reinforcement affect theory).  Artinya, kita acap kali memilih untuk lebih menerima orang lain sebagai “teman” sejauh mereka telah memberikan pandangan positif yang mengukuhkan kita sebagai suatu identitas manusia yang mulia.  Sebaliknya, kita acap kali memilih orang lain sebagai “orang yang tidak bisa dikatakan teman” bahkan “musuh” ketika mereka hanya memberikan ganjaran atau pengukuhan negatif pada diri kita.  Namun sayang, manusia sudah terlalu sibuk.

Padahal, dalam Analisa Perbandingan Sosial menyebutkan bahwa “Setiap manusia membutuhkan orang lain sebagai standar untuk mengevaluasi perilaku pribadinya.”  Maksud dari analisa perbandingan sosial ini bermakna luas, bukan saja terbatas pada pilihan manusia untuk berteman atau bermusuhan.  Maksudnya, dalam proses evaluasi diri, manusia membutuhkan semua orang disekitarnya sebagai parameter bagaimana perilakunya terhadap orang lain, baik itu teman atau bukan.  Namun sayang, manusia sudah terlalu sibuk.

Terkait hal diatas, Hodges (1974) berpendapat bahwa kesan positif lebih mudah berubah daripada kesan negatif.  Oleh karena itu, setiap manusia cenderung lebih ingat siapa saja orang yang pernah menyakitinya dibandingkan siapa saja orang yang pernah membantu atau memujinya.  Selain itu, kesan negatif memang lebih kuat melekat dalam sebuah memori, misalnya pada sepasang mantan kekasih yang berpisah karena suatu masalah atau seorang wakil rakyat yang tertidur saat rapat.

Manusia akan merasa lebih senang jika dikelilingi hal yang baik, pengalaman yang menyenangkan, masyarakat yang ramah, cuaca cerah, dan lain sebagainya (Prinsip Polyanna). Namun, patut disayangkan ketika semakin canggih dunia ini semakin mudah pula tersebarnya kesan-kesan yang negatif atau bahkan dinegatifkan.  Berita-berita politik, tindakan-tindakan kriminal, kasus-kasus pelanggaran hukum dan HAM, hingga kesenjangan sosial terus mewarnai panggung sandiwara ini.  Para penonton kemudian disajikan berbagai menu makanan tersebut dan diolahnya dalam pikiran.  Sayangnya, banyak yang menghasilkan kesan negatif dibandingkan positif.  Alhasil?  Kita tidak lagi punya waktu untuk mengevaluasi diri terhadap perilaku sendiri dan selalu sibuk untuk memberikan ganjaran atau pengukuhan negatif.

Memang, pepatah lawas masih dapat dipegang, “lebih sulit mencari satu teman dibandingkan mendapat seribu musuh”  Namun sayang, manusia sudah terlalu sibuk dengan gadgetnya masing-masing, dengan dunianya masing-masing.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: