Peran Pemimpin dalam Partisipasi Aktif dan Kesatuan Anggota

Pada dasarnya kepemimpinan Kristen memiliki faktor-faktor dan matra-matra dasar kepemimpinan yang sama dengan kepemimpinan umum lainnya.  Pada sisi lain kenyataan yang membedakan antara kepemimpinan Kristen dan kepemimpinan sekuler ialah hakikat, dinamika, serta falsafah yang didasarkan pada Alkitab. Sebagai contoh, premis utama kepemimpinan Kristen ialah bahwa Allah yang berdaulat oleh kehendak-Nya yang kekal, telah menetapkan serta memilih setiap pemimpin Kristen kepada pelayanan memimpin.  

 

 

Pemimpin Kristen harus memiliki motif dasar kepemimpinan Kristen, antara lain membina hubungan dengan orang yang dipimpinnya dan orang lain pada umumnya (Markus 3:13-19; Matius 10:1-4; Lukas 6:12-16).  Dalam kaitan ini, perlu disadari bahwa kadar hubunganlah yang menentukan keberhasilan seseorang sebagai pemimpin.  Hubungan tersebut yang pada akhirnya dapat menciptakan kesatuan anggota. Jika pemimpin itu diumpamakan sebagai seorang nahkoda kapal, maka ia dituntut kemampuan untuk mengarahkan kapal dan sekaligus menyatukan seluruh anak buahnya.  Bagi seorang pemimpin, ia harus mengetahui posisi dan sekaligus tahu akan digerakkan kemana anggota yang sedang dipimpinnya.

Kreiner menyatakan bahwa Leadership adalah proses mempengaruhi orang lain dimana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sukarela berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi.  Hal partisipasi anggota inilah yang juga menjadi point utama dalam pembahasan kali ini. Saat ini telah terjadi pergeseran paradigma tentang kepemimpinan. Dahulu, pemimpin dianggap satu-satunya penentu keberhasilan sebuah organisasi (kata organisasi di sini meliputi juga persekutuan mahasiswa di kampus). Sedangkan anggota organisasi hanyalah pihak yang mengikuti dan mematuhi segala instruksi pemimpin. Jika tidak, anggota dianggap menghambat kesuksesan organisasi. Maka, pemimpin cenderung otoriter pada anggota supaya patuh. Kini, paradigma baru telah tiba. Pemimpin bukan satu-satunya penentu kesuksesan organisasi, tetapi anggota juga berperan besar. Pemimpin sendiri, tanpa partisipasi aktif anggota tidak akan mampu membawa organisasi mencapai tujuannya.

Lalu, apa yang harus dilakukan pemimpin sekarang ? Pemimpin justru berperan makin kompleks karena harus mampu memberdayakan dan menjaga kesatuan anggotanya, dimana ia mampu membangkitkan insiatif dan partisipasi aktif anggota tanpa perlu berlaku otoriter. Maka, pemimpin harus meningkatkan self-esteem anggota dengan salah satu cara yang terbukti ampuh, yaitu tindakan rela bekorban (bayar harga). Hasil penelitian De Cremer.dkk pada 2004 membuktikan bahwa pemimpin yang rela berkorban akan meningkatkan self-esteem anggotanya. Pengorbanan pemimpin akan dilihat sebagai sinyal bahwa pemimpin menghargai organisasi sehingga anggota semakin percaya diri dan bangga menjadi bagian dari organisasi. Lebih lanjut, pengorbanan diri pemimpin merupakan contoh nyata bagi anggota untuk melakukan hal yang sama. Anggota makin termotivasi untuk bekerja mencapai tujuan organisasi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: