Refleksi Pemikiran Spivak tentang Subaltern pada Film Boys Don’t Cry

“Dunia adalah komedi bagi mereka yang memikirkannya,
atau tragedi bagi mereka yang merasakannya.”
(Harace Walpole)

MV5BMTg3NDY0NjcyNV5BMl5BanBnXkFtZTYwNTE0Njk4._V1_SY317_CR5,0,214,317_Introduction

Transeksual pada dasarnya adalah adanya keinginan untuk mengidentifikasi diri untuk menjadi seperti yang diinginkan, misalnya seperti kisah dalam film Boys Don’t Cry dimana seorang wanita bernama Brandon Teena (tokoh utama) yang terobsesi untuk menjadi seorang laki-laki. Film Boys Don’t Cry ingin menyampaikan tragedi kehidupan seorang transeksual dari bagaimana cara Brandon mengaktualisasikan diri untuk merubah jati dirinya yang sebenarnya. Dalam film Boys Don’t Cry ini, tokoh Brandon Teena menunjukan identitas kebebasannya dengan cara berpakaian dan potongan rambut layaknya seorang pria, membebat dada dan meletakkan benjolan pada celananya, bergaul dengan teman-teman pria, bahkan menyukai serta memiliki hasrat kepada wanita yang disukainya. 

Untuk memperlancar rencana Brandon menjadi seorang transeksual, maka dia pun memalsukan identitasnya dan berharap agar terlihat seperti lali-laki sejati. Bahkan sampai akhir kisah hidupnya, Brandon tetap tidak berniat untuk merubah jati diri yang sebenarnya dan tetap mencintai wanita yang disukainya. Brandon juga berharap dapat hidup bersama dengan kekasihnya Leena, meskipun itu juga yang membuat sang tokoh utama akhirnya terbunuh.

Perjuangan Memahami Hak Minoritas

Boys Don’t Cry merupakan film drama pertama yang mengangkat tema transeksual dengan berdasarkan kisah nyata. Pada dasarnya, transeksual adalah orang yang identitas gendernya berlawanan dengan jenis kelaminnya secara biologis. Film Boys Don’t Cry ini memiliki beberapa isu-isu menarik yang dapat dikritisi oleh para penonton, khususnya yang berkaitan dengan gender dan politik. Pada kesempatan ini, saya sebagai penulis mencoba melihat refleksi pemikiran Spivak tentang kajian subaltern dan semangat perjuangan film ini dalam membawa penonton memahami makna dari hak kelompok minoritas, khususnya kaum lesbian.

Subaltern diartikan sebagai kelompok yang tidak bisa menyuarakan kepentingannya dalam ketertindasan yang dilakukan oleh kelompok dominan. Menurut Spivak, subaltern adalah kaum minorotas yang akan dihegemoni oleh kaum mayoritas. Dalam hal ini, kaum lesbian dihegemoni oleh masyarakat dan pemerintah yang berkuasa, seperti yang terlihat dalam film Boys Don’t Cry dimana Brandon hampir dikeroyok sekelompok laki-laki di rumah saudaranya dan berdampak dirinya masuk penjara.

Kaum Minoritas digolongkan sebagai kelompok yang memiliki derajat rendah dan menjadi sasaran penghinaan, kebencian, serta kekerasan, seperti halnya kelompok-kelompok transgender. Dalam hal ini, transgender merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir. Menurut Spivak, suara dari para kaum tertindas atau subaltern tidak akan dapat dicari karena para kaum tertindas tidak bisa bicara. Oleh karena itu, Spivak mengatakan bahwa kaum intelektual harus hadir sebagai pendamping atau orang yang mewakili kelompok-kelompok yang tertindas tersebut.

Spivak menyarankan kaum intelektual seharusnya lebih banyak bertindak secara nyata untuk memperjuangkan kelompok-kelompok subaltern dari pada hanya berfikir atau berbicara saja. Salah satu tindakan nyata tersebut dapat dilihat dari bagaimana akhirnya film Boys Don’t Cry dapat menarik perhatian penonton bukan hanya memahami apa yang dipikirkan tetapi juga apa yang dirasakan oleh kaum lesbian. Kaum lesbian juga memiliki hak untuk mengemukakan pendapat, mendapat perlindungan hukum tanpa memperoleh kekerasan fisik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: