Update dulu, ah

 Ibu Teresa pernah berkata bahwa “kesepian dan perasaan tidak diinginkan adalah kemiskinan yang paling mengerikan.”

{E2BDED30-3C99-4B56-BA76-E722AD2C6A80}Img100Kadang, manusia itu butuh santai ditengah rutinitas nya yang entah apa yang mau dicari. Well, sepengetahuan gw, manusia cari kebahagiaan dengan mendapat kesuksesan dan eksistensi di dunia ini, ya dunia ini. Dunia yang gak bisa cuma pakai santai aja semua kesuksesan dan eksistensi itu bisa didapati.

Kadang gw muak dengan dua kata itu, kesuksesan dan eksistensi. Kadang mau bilang tai kucing lah sama itu, tapi itu bahasa yg kotor. Okelah, gw pakai kata “tai panda” aja, mungkin itu lebih soft, secara panda kan hewan yang lucu.

Dan sampailah gw pada rasa mentok dengan tulisan ini. Mentok karena risih, risih karena kicauan dunia ini. Kicauan?  Iya kicauan manusia-manusia yang saling berkompetisi mencari kesuksesan dan eksistensi.

Contohnya buanyak.

Lu pada liat aja ketika media-media sosial bertaburan? dan gw ragu kalo beberapa manusia gunain media sosial tersebut tujuan nya untuk jaringan aja. Fak lah. Menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh, yaitu, gitu jadinya.

Terus? Mulailah beberapa manusia itu menunjukkan eksistensi nya dengan menampilkan apa aja yang telah diraihnya, apa aja yang telah dia buat, sampai mimpinya juga. Ya mimpi aja sekarang harus gitu semua orang tau. Tapi, ya gitu, mimpi yang di share kudu mimpi yang berkelas.  Kesuksesan juga, dari semua hal, apa aja yang menjadikan dirinya sukses walau keciill tapi tetep di publish untuk menunjukkan identitas dirinya..

Ya gw inget, Pencarian identitas baik kolektif maupun individual merupakan sumber paling dasar dari makna atau the fundamental source of meaning. gw kutip dari om Manuel Castell.  Tapi entah kenapa, makna itu jadi makin hilang nilai ketika identitas itu dibarengi dengan kesombongonan dan keangkuhan. Naaaah ini yang lagi gw malesin di dunia..

Bukan Cuma dunia maya, dunia nyata pun begitu.. Toh dunia maya itu kan representasi juga dari apa yang kita lakuin di dunia nyata, walau dikit tapi ada lah.  Misalnya di reuni. Dari yg dulu dijadiin ajang berkumpul, silaturahmi, kangen-kangenan, tapi terselip juga kandungan kesombongan walau ada lah beberapa persen.  Jadi intinya gw muak. Entah tulisan ini bermuara kemana.

Jadi inget ketika beberap temen yang tanya bagaimana begini bagaimana begitu dengan tema besarnya yaitu kebahagiaaan.. Well, gw cuma jawab siapin aja diri lu!! Maksudnya?

Begini,  contoh aja ketika lu mau nilai yang bagus. Ya lu pasti dapet asal lu siapin diri.. Kalo lu mau dapet pekerjaan, ya lu siapin diri buat lu pantes untuk dijadiin pekerja.  Kalo lu mau pacar, ya lu kudu siapin diri buat lu jadi pasangan yang oke..

Harapan itu untuk diperjuangkan, dan jika kesuksesan yang datang, ia hanya berlabuh kepada pribadi yang siap menyambutnya.

Jadi, Tuhan Yang Maha Esa (asiiik bahasanya) bakal denger kok apa yang kita mau dan dia bakal jawab apa yang kita butuhin. Tugas kita sederhana, siapin diri.

Konsekuensi untuk yang ngga persiapin diri?

Ketika kita minta pekerjaan terus Tuhan kasih pekerjaan, eh tapi kita gak siap karena diberi tanggung jawab jadi Manajer. Mampuslah kan.  Pas kita masih nyimeng, ngerokok atau mabok-mabokan, ya berarti kita belum siap dapet pacar atau calon istri coy. Jaga badan aja belom bisa, gimana jaga keluarga. haha.  Waktu kita mau dapet nilai-nilai ujian yang bagus tapi pake nyontek, ya siapin diri juga deh denger omongan-omongan miring orang lain dan kepercayaan bakal luntur.  Jadi kesiapan diri itu penting, at least. Baru deh kebahagiaan bakal dateng secara sederhana.

Masih pentingin sukses dan eksis[1]?

Silahkan. Salam damai🙂


  1. Eksistensialisme pertama kali muncul pada abad ke 19. Eksistensialisme memiliki akar dalam karya – karya para filosof, khususnya Soeren Kierkegaard dan Friedrich Nietzsche.  Eksistensialisme cenderung memberikan hak kebebasan seluas – luasnya bagi manusia. Hal ini dirasa perlu karena manusia butuh mengeksplorasi dunianya tanpa harus dipengaruhi oleh stimulasi-stimulasi dari lingkungan yang akan mendeterminasi diri manusia itu sendiri. Dalam kajian ilmu psikologi, psikolgi eksistensial dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memahami keberadaan manusia dilihat dari unsur kebebasan yang dimiliki. Manusia adalah individu yang unik dalam mempersepsi dan mengevaluasi dunia. Disini keberadaan manusia sangatlah subjektif. Eksistensialisme menganggap manusia sebagai individu yang memiliki kebebasan penuh dalam menentukan jalan hidupnya kedepan. Sehingga manusia bisa mengarahkan dirinya untuk melakukan yang terbaik buat dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: