Orientalisme dalam Film My Name is Khan

Remember one thing, son. There are only two kinds of people in this world. Good people who do good deeds. And bad people who do bad. That’s the only difference in human beings. There’s no other difference. Understood? What did you understand? Tell me. Tell me !

Poster-My-Name-Is-Khan-Karan-JoharSINOPSIS

Rizwan Khan yang diperankan oleh Shahrukh Khan adalah seorang anak Muslim yang tumbuh dengan saudaranya Zakir (Jimmy Shergill) dan ibunya Razia Khan (Zarina Wahab) dalam sebuah keluarga kelas menengah di bagian Borivali Mumbai.  Rizwan berbeda dari anak-anak lain, Namun, ia memiliki karunia tertentu, khususnya kemampuan khusus untuk memperbaiki hal-hal mekanis. Perbedaannya mengarah ke les khusus dari seorang sarjana tertutup dan perhatian ekstra dari ibunya, semua yang mengarah ke tingkat yang tinggi dari kecemburuan dari saudaranya Zakir, yang akhirnya meninggalkan keluarganya untuk hidup di Amerika Serikat.

Rizwan Khan menderita sindrom Asperger, sebuah bentuk autisme berfungsi tinggi yang mempersulit sosialisasi. Rizwan kemudian dewasa dan menikahi seorang Hindu, bernama Mandira, di San Francisco. Setelah  peristiwa 9 September di Amerika Serikat, Rizwan ditahan oleh pihak berwenang di LAX karena kesalahan cacatnya untuk perilaku yang mencurigakan. Setelah penangkapannya, ia bertemu Radha, seorang terapis yang membantu dia menghadapi situasi dan penderitaannya. Rizwan kemudian mulai perjalanan untuk bertemu Presiden AS Bush untuk membersihkan namanya.

Kajian Pemikiran Edward W.Said mengenai Orientalisme

Edward W. Said adalah tokoh intelektual yang lahir di Yerusalem pada 1935 dan berangkat dari keluarga yang terpandang. Ayahnya berkewarganegaraan Palestina – Amerika Serikat dan merupakan seorang pedagang yang sukses di wilayah Arab. Pada 1937, Edward Said dikirim orang tuanya ke Kairo, Mesir untuk menuntut ilmu di Victoria College, dimana tempat tersebut merupakan salah satu sekolah mewah yang berada di Timur Tengah. Dalam masa studinya, kemudian Edward Said bukan lagi tumbuh menjadi anak muda Arab saja tetapi benar-benar berkembang menjadi orang Inggris. Hal tersebut disebabkan karena sistem pendidikan dan para pengajar di Victoria College atau sekolah-sekolah lanjutan yang dikenyamnya secara keseluruhan bergaya Inggris. Di usianya yang ke 18 tahun pun, Said sudah memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat, sama hal dengan Ayahnya.

Pendidikan yang dikenyam oleh Edward Said telah menjadikannya seseorang intelektual yang kemudian dipandang bukan hanya oleh bangsa Barat, namun juga bangsa Timur. Hal tersebut ditegaskan pada perhatiannya pada permasalahan yang dialami Palestina, tempat dia dilahirkan. Teori-teori yang didapatkan Said di Barat tidak melunturkan nasionalisme sang akademisi, sehingga dia terpanggil untuk concern terhadap bangsanya baik sebagai pengajar atau aktivis.

Sebagai seorang akademisi, Edward Said bergelut di bidang sastra dan telah menghasilkan beberapa karya serta pemikiran. Salah satu karyanya yang terkenal berjudul Orientalisme (1978). Pro dan kontra mengenai Orientalisme membawa Said untuk terpanggil menyuarakan kebenaran karena disitulah sebenarnya peran sebagai intelektual. Meskipun Said seorang Kristen, namun dia menyadari bahwa kebenaran berada di atas segalanya dibanding adanya berbagai pembatasan seperti budaya, bahasa, ideologi, ras, warna kulit, bahkan agama. Said tergerak atas akar permasalahan di tanah kelahirannya, serta pandangan bangsa Barat yang terlalu menyudutkan Islam pada khususnya.

Dalam perumusan Said, Orientalisme pada prinsipnya adalah suatu cara untuk mendefinisikan dan menempatkan hal-hal yang berkaitan selain Eropa. Namun sebagai sekelompok disiplin terkait Orientalisme tersebut, dalam cara yang penting, tentang Eropa itu sendiri, dan bergantung pada argumen yang beredar di sekitar isu kekhususan nasional, dan asal-usul rasial dan linguistik. Dengan demikian rumit dan rinci ujian Oriental bahasa, sejarah dan budaya dilakukan dalam konteks di mana supremasi dan pentingnya peradaban Eropa itu dipertanyakan. Hal tersebut adalah kekuatan wacana, dimana mitos, opini, kabar angin dan prasangka yang dihasilkan oleh pengaruh para sarjana Barat krmudian cepat diasumsikan sebagai status kebenaran yang akhirnya diterima masyarakat.

Istilah Orientalisme berasal dari kata Orientalis, yang secara tradisional dikaitkan dengan mereka yang terlibat dalam studi Orient. Orientalisme berasal dari kata orient yang berarti Timur sebagai lawan dari occident yang artinya Barat. Istilah Timur memiliki makna yang berbeda untuk orang yang berbeda. Said menunjukkan, Amerika mengasosiasikannya dengan jauh mengenai Timur, terutama Jepang dan Cina, sedangkan untuk Eropa Barat, dan di khususnya Inggris dan Prancis, itu memunculkan gambar sampai berbeda.  Maka secara sederhana, orientalisme diartikan sebagai cara pandang Barat atas Timur.

Orientalisme menunjukkan bagaimana kekuasaan beroperasi dalam pengetahuan, dimana proses yang diketahui Barat terhadap Timur telah menjadi cara mengerahkan kekuatan di atasnya. Berita, pengetahuan para ahli serta komentar-komentar  politik tentang Timur Tengah merupakan cara-cara mengabadikan Barat, dan secara khusus kekuasaan Amerika. Maka Orientalisme yang ditegaskan oleh Said menceritakan bahwa kaum intelektual Barat cenderung melihat Timur hanya satu sisi saja. Intelektual Barat cenderung memandang Islam sebagai agama yang keras, fundamental, ekstrim dan merupakan ancaman bagi peradabannya.

Edward Said menyatakan bahwa Orientalisme  merupakan gambaran pengalaman orang Barat tentang manusia Timur. Namun, Orientalisme tersebut telah menghasilkan gambaran yang salah tentang Timur, khususnya kebudayaan Arab dan Islam.  Meskipun kajian orientalis nampak obyektif dan tanpa kepentingan apapun, namun kajian tersebut berfungsi untuk tujuan politik. Apapun yang dikatakan oleh orang Eropa tentang Timur tetap saja mengandung rasial, imperialis dan etnosentris.  Hal tersebut disebabkan Barat memandang dengan rasa superioritas yang tinggi terhadap Timur yang inferior.

Pemikiran Edward W.Said mengenai Orientalisme dalam Film My Name is Khan

Pendapat dan pemikiran Edward Said mengenai Orientalisme kemudian secara nyata dapat direfleksikan. Permasalahan antara Israel dengan Palestina adalah salah satu contoh kasus yang memang sampai saat ini belum juga terselesaikan. Namun bukan terkotak hanya kasus itu saja karena ada banyak contoh lain untuk merefleksikan Orientalisme itu sendiri. Salah satu hal yang juga menarik adalah film layar lebar yang belum lama telah tayang di berbagai belahan dunia. Film tersebut berjudul “My name is Kahn”.

Dalam film “My name is Kahn”, diceritakan bahwa tokoh utama berkeinginan bertemu Presiden Amerika Serikat untuk mengatakan padanya bahwa dia adalah seorang Muslim tetapi bukan teroris. Niat tersebut muncul pasca peristiwa 11 September disertai lingkungan tempat tinggalnya kemudian mengecam bahwa Islam adalah teroris. Kahn merasa bahwa pandangan yang digeneralisasikan itu adalah salah. Namun bukan hanya kecaman di lingkup yang sempit saja yang diperlihatkan dalam film tersebut, namun ternyata dalam perjuangan Kahn untuk menemui sang presiden pun, kecaman terhadap kejadian 11 September silam terus digeneralisasikan oleh banyak pemeran, dalam hal ini orang Barat.

Film tersebut sebenarnya bukanlah hanya sebuah wacana atau fiktif belaka, karena dalam kenyataannya pun, pandangan Barat terhadap Islam pada film tersebut tidak dapat dipungkiri kenyataanya. Hal tersebut yang kemudian dijadikan sebuah film dimana berangkat dari fenomena pandangan bangsa Barat terhadap Timur. Meskipun disisi lain tidak secara laten permasalahan tersebut digeneralisasikan di beberapa negara lainnya.

Selain film yang secara tersirat juga ikut menjelaskan mengenai Orientalisme versi Said, banyak pula kita temukan refleksi lain di bangsa Timur atau negara-negara berkembang khususnya. Misalnya beberapa negara maju yang menguasai negara berkembang di sisi perekonomian. Maka pandangan masyarakat Barat pun lebih mengarah bahwasanya bangsanya lebih superior dibandingkan Timur.

Pandangan yang mendasar terkait Orientalisme oleh Edward Said adalah suatu ilmu dengan kepentingan untuk menguasai bangsa-bangsa selain Barat atau dapat dikatakan bangsa Timur. Hal tersebut dapat dilihat terkait hegemoni bangsa Barat terhadap bangsa Timur. Secara nyata dapat kita lihat dalam hal penguasaan ekonomi dan sumberdaya alam di Timur, misalnya di Indonesia. Sumber daya alam meliputi emas atau minyak di negara Indonesia yang sebenarnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk ekonomi bangsa sendiri namun pada kenyataannya dieksploitasi oleh asing. Stereotif kepada bangsa Timur sebagai bangsa primitif atau negara inferior kemudian dikemukakan oleh bangsa Barat. Dalam hal ini juga tak ayal, masyarakat Indonesia sendiri mengamini bahwa stereo negatif ini telah menjadi masalah bangsanya.

Analisis Orientalisme yang diterbitkan pada 1978 oleh Edward Said telah menjadi klasik dalam studi hubungan Barat dengan Timur. Deskripsi Orientalisme dalam berbagai manifestasi, dijadikan sebagai wacana dimana telah membangkitkan serangan teoritis dan argumen metodologis, dan juga telah memberikan fokus yang tak tertandingi dan kejelasan politik ke berbagai kegiatan yang kompleks dimana Eropa memperoleh pengetahuan lainnya. Orientalisme adalah demonstrasi sempurna dari suatu kekuatan amatirisme dalam pekerjaan para intelektual. Esensi Said memberikan argumen bahwa untuk mengetahui sesuatu adalah  memiliki kekuasaan di atasnya, dan sebaliknya, untuk memiliki kekuatan adalah dapat mengetahui dunia yang di dalamnya terdapat Anda dengan istilah tersendiri. Saat ini sesuatu merupakan wilayah seluruh dunia, di mana puluhan etnis, bangsa dan bahasa berkumpul, kemudian antara  pengetahuan dan kekuasaan menjadi sangat penting untuk ditegaskan.

DAFTAR REFERENSI

Bill Ashcroft and Pal Ahluwalia. 2001. Routledge Critical Thinkers : essential guides for literary studies. London and New York : Routledge.

Said, Edward. 1978. Orientalism: Western Conception of the Orient.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: