Noktah II

Jangan kau tanya lagi sudah berapa besar rinduku untuk pulang.
Sulitnya bukan kepalang,
Seandainya rumah menjadi tempat peraduan, mungkin aku kembali.
Nyatanya belum, mestinya sudah.

“Gagal kian kau” tandas beliau
Rasa sakit sudah tentu, rasa hormat mestinya tetap.
Melekat kedua rasa menjadi asa.
Ah, sudahlah, memang benar… Aku gagal.
Dan ketidakpulangan hanyalah pembenaran dalam bingkai kegagalan.

Ternyata aku masih sama dengan orang kebanyakan.
Selayaknya ketika mudik tiba,
Ada yang kembali karena rindu…
Ada yang tidak kembali meski rindu..
Ada yang kembali untuk sekedar memberitahu.
“Hai rumah, aku berhasil di negri rantau”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: