Refleksi Perjuangan Mandela terhadap Rasisme pada Kasus Pemberlakuan Undang-Undang Imigrasi di Arizona

Mandela1

 

Nelson Rolihlahla Mandela lahir pada 1918 di sebuah daerah Afrika Selatan yang bernama Umtata. Pada usia 12 tahun, Mandela tinggal dengan kepala suku Tembu setelah Ayahnya meninggal dunia. Pada masa remaja, keinginan Mandela adalah untuk masuk ke dunia politik demi mengubah sistem ketidaksetaraan rasial dan pemisahan yang terdapat di Afrika Selatan. Mandela meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Afrika Selatan pada tahun 1942. Pada tahun 1944, Mandela bergabung Kongres Nasional Afrika (ANC), sebuah organisasi nasional yang bekerja untuk mempromosikan hak-hak kulit Hitam di Afrika Selatan. Mandela dan para pemimpin lain mendirikan Kongres Pemuda Liga yang menyerukan pemogokan buruh dan protes untuk menuntut keadilan sosial dan kesetaraan. Pada tahun 1955, ANC, bersama dengan organisasi lain, menulis Kebebasan Piagam, yang menyerukan Afrika Selatan nonracial dan keadilan sosial bagi masyarakat miskin.

Sewaktu Nelson Mandela menjadi presiden, dalam pemerintahannya dia telah berjanji untuk melaksanakan perubahan terutamanya dalam isu-isu yang telah diabaikan semasa era apartheid. Beberapa isu-isu yang ditangani oleh pemerintahan pimpinan ANC adalah seperti pengangguran, wabah AIDS, kekurangan perumahan dan pangan. Pemerintahan Mandela juga mulai memperkenalkan kembali Afrika Selatan kepada ekonomi global setelah beberapa tahun diasingkankan karena politik apartheid. Di samping itu, dalam usaha mereka untuk menyatukan rakyat pemerintah juga membuat sebuah komite yang dikenal dengan Truth and Reconciliation Committee (TRC) yang berperan untuk memantau badan-badan pemerintah seperti badan polisi agar masyarakat Afrika Selatan dapat hidup dalam aman dan harmonis.

Permasalahan rasisme terus diperjuangkan hingga saat ini oleh beberapa tokoh bahkan kelompok orang. Nelson Mandela menjadi tokoh yang sangat berpengaruh karena perjuangannya menghilangkan tindakan rasis di Afrika Selatan. Perjuangan Mandela kemudian menjadi inspirasi bagi masyarakat dunia untuk menghilangkan rasisme. Perjuangan menghilangkan rasisme ini dapat dilihat dari beberapa kegiatan, namun yang lebih familiar terlihat pada bidang olahhraga misalnya sepak bola. Sebagai contoh dapat dilihat pada laga perempat final hingga final Piala Dunia 2010, dimana perwakilan dari negara yang akan bertanding yakni kapten tim kesebelasan membacakan deklarasi nonracial sebelum kick off. Olahraga yang diminati oleh mayoritas masyarakat dunia ini sangat strategis untuk muculnya tindakan rasis. Maka, sepak bola memang menjadi sarana yang cukup efektif dalam menyuarakan perjuangan nonracial.

 

6a00d8341c630a53ef01348084da88970c-600wi

Perjuangan nonracial ternyata tidak hanya dapat disaksikan pada setiap pertandingan sepakbola saja. Olahraga bola basket juga dapat menjadi sarana yang cukup strategis untuk memperjuangkan nonracial. Peristiwa yang baru ini terjadi dapat dilihat dari laga playoff semifinal wilayah Barat NBA. Phoenix Suns sebagai salah satu tim yang berlaga pada playoff NBA turut menyuarakan gerakan noracial dengan kostum yang dikenakan oleh para pemainnya.

Para pemain Phoenix Suns mengenakan seragam baru berwarna oranye dengan tulisan Los Suns yang berarti The Suns dibagian dada. Pemakaian seragam tim ini sebagai bentuk penghormatan atas perayaan Cinco de Mayo (5 Mei) dan protes terhadap undang-undang Arizona. Awalnya Cinco de Mayo merupakan peringatan terhadap kemenangan prajurit Meksiko atas Perancis dalam perang di kota Puebla, Meksiko. Cinco de Mayo selalu dirayakan di kota Puebla dan warga Meksiko di luar negeri termasuk Amerika Serikat.

 

arizona_d0edf

 

Warga Amerika Serikat yang berdarah Meksiko kemungkinan akan kehilangan sebagian kemerdekaannya dengan Undang-Undang imigrasi yang baru diterapkan di Arizona. Mereka tidak lagi bisa membawa keluarganya dari Meksiko dengan bebas masuk Arizona bahkan hanya untuk sekedar singgah. Padahal, sebagian besar warga Amerika Serikat di Arizona yang menjadi pendukung Suns memiliki garis keturunan Meksiko. Undang-undang itu akan menimbulkan apa yang disebut racial profiting yang memaksa polisi mencurigai orang hanya berdasar ras saja.

 

 

Kritik terhadap Undang-undang keimigrasian di Negara Bagian Arizona ini bukan hanya dipelopori pada kegiatan olahraga, namun sudah meluas dari masyarakat hingg pemerintahan. Undang-Undang imigrasi di Arizona ini menimbulkan kritik luas baik dari dalam negara bagian maupun dari pemerintah federal Amerika Serikat serta negara tetangga Meksiko. Presiden Barack Obama juga mengkritik Undang-Undang imigrasi tersebut dan mengatakan bahwa hal itu dapat memicu tindak pelecehan terhadap orang-orang Hipanik. Obama mengimbau dukungan dari kedua partai untuk memperbaiki sistem imigrasi Amerika Serikat, namun di sisi lain, para anggota parlemen pengusul Undang-Undang imigrasi di wilayah Arizona ini memiliki penilaian tersendiri. Mereka mengatakan bahwa Undang-Undang yang telah menimbulkan protes luas tersebut diperlukan karena pemerintah Obama gagal untuk memberlakukan Undang-Undang federal yang ada.

Undang-Undang yang disponsori kalangan legislatif dari Partai Republik tersebut diantaranya mewajibkan seluruh imigran dan wisatawan yang berkunjung ke Arizona untuk selalu membawa dokumen keimigrasian yang dikeluarkan Amerika Serikat. Jika hal tersebut tidak dipatuhi maka akan menghadapi resiko tahanan. Undang-Undang Keimigrasian Negara Bagian Arizona menetapkan bahwa berada di Amerika Serikat secara illegal merupakan tindak kejahatan. Undang-Undang ini mengijinkan polisi untuk menyelidiki siapapun yang mereka curigai sebagai imigran gelap.

Disetujuinya Undang-Undang imigrasi itu menunjukkan bahwa adanya sebuah atmosfer politik bermusuhan terhadap komunitas-komunitas imigran dan wisatawan asal Meksiko. Oleh karena itu, Obama sebagai pimpinan tertinggi di negara itu dituntut menyelesaikan permasalahan agar tidak ada perselisihan diantara masyarakat dan negara bagian. Hal ini hampir sama dengan perjuangan Mandela ketika sistem apartheid menguasai Afrika Selatan.

Dalam apartheid, individu yang diklasifikasikan menurut ras diberi hak khusus dan hak istimewa berdasarkan ras dan warna kulit. Orang kulit hitam Afrika Selatan dipaksa untuk hidup di dalam daerah miskin, menerima pendidikan dan perawatan medis yang rendah, dan kesulitan dalam berbagai kesempatan kerja. Hal tersebut juga terjadi ketika mayarakat Meksiko yang menjadi pekerja dengan upah murah karena kesulitan mencari pekerjaan di negara asalnya malah ditangkap karena Undang-Undang imigrasi tersebut.

Pada pertengahan abad ke 20 terdapat dua jenis nasionalisme di kalangan masyarakat Afrika Selatan. Pertama, Nasionalisme Afrika Murni yang berpusat di sekitar semboyan Marcu Garvey yang berbunyi, “Lemparkan orang kulit putih ke laut.” Jenis nasionalisme ini bersifat ekstrim dan ultra revolusioner. Kedua, Nasionalisme Afrika Multi Rasial yang memperjuangkan kesamaan derajat dan kedudukan, keadilan dan kemakmuran. Para pengikut paham ini bukan hanya orang kulit hitam, tetapi juga ras lainnya, yaitu kulit putih dan berwarna, termasuk orang India yang percaya bahwa Afrika Selatan adalah milik semua orang tanpa pandang warna kulit.

Nelson Mandela ketika masih muda pernah menganut nasionalisme ekstrim yang hanya memperjuangkan kaum kulit hitam dan tidak mau memberi tempat pada ras lain di Afrika Selatan, tetapi hal ini berubah sejalan dengan kematangan pengetahuan dan kepribadian Mandela. Perubahan ini rupanya membawa efek positif bagi Mandela. Ideologi seperti ini diharapkan dimiliki oleh pemimpin-pemimpin negara bagian dan Obama pada khususnya agar permasalahan mengenai Undang-Undang Imigrasi di Arizona ini dapat terselesaikan.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: