Selera

 

“Selera itu tidak dapat diperdebatkan” (Husserl)

Memahami Pluralisme dan Multikulturalisme

Ketika kita melihat konflik yang marak terjadi di Indonesia, maka muncul berbagai pertanyaan. Namun akan lebih sering kita menemukan pertanyaan terkait konflik tersebut, antara kenapa konflik itu terjadi? atau siapa yang sedang berkonflik? Wajar ketika muncul pertanyaan “siapa” untuk memahami akar permasalahan konflik tersebut.

Namun, sampai kapan kita wajar dan langsung saja bertanya kenapa konflik tersebut terjadi. Jika kita masih wajar akan “siapa” maka otomatis kita masih terkotak-kotak dalam segala perbedaan yang terjadi, sedangkan “kenapa” menunjukkan kepekaan kita terkait usaha dalam memahami Pluralisme dan Multikulturalisme, khususnya di Indonesia. Dari sebuah konsep pluralisme dan multikulturalisme, keberagaman yang dimiliki oleh komunitas-komunitas dalam sebuah konteks negara harus dipertanyakan secara lebih mendalam. Apakah konsep tersebut sudah kita pahami secara benar atau tidak. Dikatakan secara benar karena banyak beberapa orang yang dapat menjelaskan konsep pluralisme dan multikulturalisme secara baik namun belum baik direfleksikan dalam kehidupan sehari-harinya. Sederhana dalam menjelaskan, “tidak perlu bertanya apa agamanya ketika ada yang memberikan pertolongan”

Dalam hal ini, agama menjadi salah satu pendekatan yang sering ditemui jika berbicara mengenai pluralisme maupun multikulturalisme, khususnya lagi di Indonesia. Enam agama resmi negara (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu) dan lebih dari 150 aliran kepercayaan, cukup menjadi bukti bahwa Indonesia termasuk salah satu negara pluralis terbesar di dunia. Pluralitas bisa menjadi potensi, namun dapat pula menjadi problem. Dalam konteks inilah pluralisme diperlukan untuk mengelola keragaman itu. Sudah tentu, antar umat beragama “diharapkan” agar saling menghormati dan menghargai. Realitanya? Untuk hal tersebut, saya tidak akan membahas terlalu jauh tentang data dan fakta pertikaian yang melibatkan antar agama. Hanya yang perlu ditekankan disini adalah, substansi dari agama itu sendiri dalam memahami pluralisme dan multikulturalisme yang dari awal diperbincangkan. Otak ini masih berkelana memahami dan mengimpelementasi makna dari pluralisme. Apakah setiap manusia telah memahami menjadi pluralis atau hanya sekedar toleran? Hal tersebut dikarenakan, sikap toleran hanya sebagian kecil jika menyebut dirinya pluralis, toleran adalah respon sedangkan pluralism adalah paham. Masihkah dipahami secara sempit, sesempit memahami apa itu agama? Misalnya si A mengharamkan makan babi, tapi apakah dia harus toleran dengan si B yang makan babi? Atau contoh lain. Siapa yang sebenarnya berhak menilai bahwa dialah domba yang hilang atau dialah kafir? Terkait analogi tersebut, sepatutnya kita sadari dan yakin dengan apapun agama apa yang dianut masing-masing dalam batasan sebagai manusia.

Lalu tidak menganggap “agamaku paling benar”, karena itu adalah batasan atau urusan Tuhan toh? Oleh sebab itu, seharusnya agama itu dijadikan sebuah “jalan” bukan menjadi “tujuan”. Ungkapan iman dilakukan melaui tata ibadah masing-masing dan perwujudan nya dilakukan melalui kehidupan sehari-hari sebagai manusia. Maka dapat ditarik satu benang merah, bahwa Pluralisme harus didasarkan pada pemahaman kolektif bahwa semua manusia memilki hak yang sama dan harus diperlakukan secara adil dan beradab. Konsep pluralisme tersebut perlu ditarik dari dimensi teologis menuju dimensi sosial-kemanusiaan. Sedangkan, multikulturalisme mencakup hal yang lebih luas dan mendalam lagi, yakni merupakan sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa menyatakan klaim kebenaran terhadap suatu keyakinan merupakan hak setiap orang. Artinya, jika ada yang berkata bahwa keyakinannya lebih benar maka itu adalah hak nya. Namun berdasar apa yang pernah diucapkan oleh Prof. Magnus Suseno, bahwa menerima perbedaan itu bukan berarti kita tidak memiliki kebanggaan terhadap agama kita sendiri.

Jadi, tepatlah apa yang dikatakan Husserl bahwa selera itu tidak dapat diperdebatkan, demikian pula dengan agama, yang lebih dari sekedar selera.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: