REFLEKSI MAHASISWA MASA KINI

”Ilmu pengetahuan semakin banyak melahirkan keajaiban. Dongengan leluhur sampai malu tersipu. Tak perlu lagi orang bertapa bertahun untuk dapat berbicara dengan seseorang di seberang lautan, orang Jerman telah memasang kawat laut dari Inggris sampai India ! Dan kawat semacam itu membiak berjuluran ke seluruh permukaan bumi. Seluruh dunia kini dapat mengawasi tingkah-laku seseorang. Dan orang dapat mengawasi tingkah-laku seluruh dunia” (Pramoedya Ananta Toer)

Salam damai,

Mungkin judul ini tidak begitu cocok karena kapasitas penulis belum dapat menyimpulkan satu pertanyaan besar, “Bagaimana mahasiswa saat ini?”

Ya, hal tersebut dikarenakan setiap generasi memiliki era-nya tersendiri.

Namun, tagline yang mengatakan bahwa “setiap generasi memiliki era-nya tersendiri” perlu khalayak yakini sebagai sebuah kebenaran.  Mencoba membantu mengingat bagaimana dinamisasi pemuda di era 1928, 1945, 1966, atau hingga 1998 dapat menjadi contoh dalam menjawab keraguan apakah benar setiap generasi memiliki era-nya tersendiri.

Maka akan lebih tepat jika tulisan ini diberi judul “Setiap Generasi Memiliki Era-nya Tersendiri.”  Namun, pembahasan akan menjadi luas ketika berbicara generasi, karena yang penulis ingin capai adalah kehidupan mahasiswa itu sendiri.

Kerap kali, mahasiswa identik dengan istilah “Agent of Change” atau “Intellectual Human

Jargon maha dikata depannya menjadikan kaum ini seperti yang berada diatas, besar, layaknya Maha Pencipta, Maha Pengasih, atau Maha lainnya.

Muncul dikotomi pada si Maha, ada yang bisa kongkow di kedai kopi namun ada juga yang harus bekerja bahkan rela menjadi SPG, ada yang dengan keringat konyol beraksi dijalan namun ada juga yang hanya duduk nyaman dengan gadget mahal mengkritik di media sosial, ada yang masuk lewat jalur belakang namun ada juga yang gagal membayar semester depan, ada yang berbohong tentang pengeluaran namun ada juga yang cari uang sampai lupa kewajiban, ada yang suka menulis entah copy paste namun ada juga yang malas membaca dan tak satupun buku pernah habis dibaca, ada yang selalu galau karena cinta namun ada juga yang kebablasan karena termakan cinta, ada yang meneliti karena uang namun ada juga yang mengabdi karena eksistensi, ada yang tergila karena organisasi namun ada yang stress karena minim partisipasi apalagi apresiasi. inilah refleksi.

Dalam hal ini, ada dua sikap yang seharusnya dilakukan sebagai orang yang berada “diluar generasi”, yakni saling menghargai atau saling mengkritisi. Jika setiap mahasiswa memiliki era-nya tersendiri, maka biarkanlah sikap saling menghargai hadir didalam apapun aktivitas yang dilakukan karena mereka pun merintis jalan nya masing-masing.  Namun, jika setiap mahasiswa memiliki era-nya tersendiri pun, maka perlulah sikap saling mengkritisi tentang apa yang telah dipikirkan, apa yang telah diabdikan, apa yang telah dilakukan, apa yang telah diciptakan, apa yang telah diperjuangkan, dan apa yang telah lainnya.

Sikap kritis digunakan bukan untuk sarana pembanding di era sebelumnya, karena budaya terlalu mengagungkan kejayaan masa lalu masih menjadi penyakit yang belum bisa kita sembuhkan, entah kenapa.

Sikap kritis digunakan ketika Pemuda atau kita sebut mahasiswa tidak berada pada jalur independensinya. Sikap kritis pun dilakukan ketika mahasiswa tidak melakukan apa-apa dengan sesuatu hal yang terjadi!

Sudah bukan rahasia umum. Sistem pendidikan dan Masa akademik mahasiswa saat ini berbeda dengan zaman yang dahulu.  Saat ini, 4 tahun dibangku kuliah sudah menjadi standart mahasiswa untuk keluar ke dunia nyata. Banyak hal positif dapat diambil dari kebijakan tersebut, tapi kita juga harus jujur lebih banyak mana dari dampak negatifnya? Jika saya lihat jumlah pengangguran di Indonesia saat ini, saya sanksi terhadap hal positif tadi.

Hukum alam pun berlaku, yang buas yang berkuasa. Berapa orang yang pernah mendengar tentang “Nilai sekarang nomor sekian, yang penting link dan penampilan” Nilai yang seperti apa? Tidak lagi dan tidak bukan adalah nilai yang tercantum pada ijasah. Secarik kertas yang amat bernilai dan butuh perjuangan untuk mendapatkannya (?)

Bagaimana jika tidak ada link dan penampilan kurang menarik? hal positif tadi.

Hukum alam pun berlaku, yang buas yang berkuasa. Berapa orang yang pernah mendengar tentang Keberuntungan? Astaga persetan dengan keberuntungan. Bukankah keberutungan itu momentum bertemunya kesempatan dan kemampuan?

Lalu masihkah ada yang kebingungan setelah lulus?

Penulis meyakini bahwa pekerjaan sudah ada jodohnya masing-masing. Dan mahasiswa wajib hukumnya mempersiapkan momentum bertemunya kesempatan dan kemampuan tersebut. Dapatkah dilakukan dalam kurun waktu 4 tahun?

Lalu sibuklah mahasiswa masa kini mengejar kesempatan dan memperlengkapi kemampuan. Di sisi lain, mereka tutup mata dengan kondisi un-normal yang terjadi disekitarnya. Mungkin ada yang menyadari namun tak sampai ke dalam tindakan. Karena dunia maya lebih aman daripada dunia nyata, banyak yang lebih memilih mengeluh, mempertanyakan, mencibir, dan lain sebagainya.

Padahal negeri ini perlu sang pejuang bukan pengeluh, yang dapat menjawab bukan mempertanyakan, lalu karakter empati yang tak suka cibir sana-sini.

we make a living by what we get, but we make a life by what we give. (Winston Churcill)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: